Posted by indra on April 7th, 2012 — Posted in Opini, Kejadian Terbaru, Blogging, Informasi, Obrolan IT

Baru saja membaca artikel Aulia Masna di Daily Social mengenai rencana peluncuran kembali Yahoo! Koprol bulan Mei mendatang, saya dikagetkan dengan tweet dari Satya Witoelar yang menyatakan bahwa beliau akan mem-posting CV dari para developer berbakat dan berpengalaman dari ex-Yahoo_ID/Koprol secepatnya. List tersebut pada akhirnya di-posting di blog Satya, sekaligus mengkonfirmasikan bahwa seluruh tim pengembang Koprol telah dibubarkan oleh Yahoo!.
Yang saya ketahui, Yahoo! memang adalah sebuah kapal yang hampir tenggelam, dan sebagai bagian dari strategi CEO baru Scott Thompson untuk menahan kapal agar tidak karam, Yahoo! memberhentikan sekitar 2000 staff di seluruh dunia. Yahoo! Indonesia juga tanpa pengecualian, dan sayangnya tim pengembang Koprol termasuk dalam list tersebut. Yang saya tidak mengerti, kenapa tim tersebut dibubarkan sebelum rencana peluncuran Koprol 2.0 yang baru bulan Mei ini.
Yang jadi pertanyaan besar sekarang adalah bagaimana dengan nasib Koprol. Akankah jaringan sosial media tersebut ditutup? Seperti yang telah disebutkan oleh Aulia dari Daily Social, Koprol punya basis pengguna yang kuat di Indonesia, dan ketika berita rencana kemungkinan penutupan Koprol menyebar, banyak pengguna yang protes (dengan hashtag #saveKoprol) meminta platform tersebut jangan ditutup.
Saya harus mengakui bahwa saya sudah cukup lama tidak menggunakan Koprol. Sebagai jaringan sosial media berbasis lokasi, Koprol kalah jauh dibandingkan Foursquare, terutama di Singapura sini. Namun, Koprol itu murni dibuat di Indonesia dan oleh orang Indonesia, dan sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga dengan Koprol.
Saya kenal dengan teman-teman seperti Ryan, Nunil dan Ari, melalui Koprol. Saya bahkan bertemu langsung dengan Leo dan Smitty di sebuah acara gathering Koprol di Singapura. KCR, radio komunitas Koprol, adalah salah satu yang menginspirasi saya ketika membentuk Radio Komunitas Twitter Indonesia (RKTI). Jadi, suka ataupun tidak, saya punya banyak kenangan di Koprol.

Mari kita minta Yahoo! untuk tidak menutup Koprol. Jika Yahoo! memang tidak mau menjalankan Koprol lagi, mungkin para founder Koprol bisa meminta ke Yahoo! untuk tetap menjalankan jaringan sosial media tersebut, diluar Yahoo? Saya kurang tahu apakah hal tersebut dimungkinkan, mengingat saya mengerti kalo Yahoo! telah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mengakuisisi Koprol bulan Mei 2010 yang lalu.
Tolong, jangan membiarkan Koprol mengikuti nasib Kronologger, jaringan microblogging buatan Indonesia lain di masa lalu, yang ditutup setelah diakuisisi oleh Asia Blogging Network yang sekarang sudah tidak aktif lagi.
PS. Gambar courtesy dari @candoddi dan @chocoz.
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by IndraPr on April 7th, 2012 — Posted in opinion, happening, indonesia, community, thoughts, microblogging

Just after I read
Aulia Masna’s article on
Daily Social about the plan to
relaunch Yahoo! Koprol in May, I was surprised to see
Satya Witoelar’s
tweet stating that he would post the CVs of “talented experienced ex-Yahoo_ID/Koprol ‘s developers” soon. The list was eventually
posted on Satya’s blog, confirming that
the whole Koprol’s developers team has been disbanded by Yahoo.
From what I understand,
Yahoo! is a sinking ship, and as part of the
new CEO Scott Thompson’s strategy to keep the ship afloat, Yahoo! is
axing about 2,000 of its staff globally.
Yahoo! Indonesia is no exception, and unfortunately Koprol’s development team has been included on the list. It beats me though, on why the whole team had to be disbanded ahead of its planned launch of the supposedly new Koprol 2.0 engine in May.
The big question now is what will be Koprol’s fate. Will the social media platform be closed? As Aulia of Daily Social
has pointed out, Koprol has a strong users base in
Indonesia, and when the news of possible imminent shutdown has spread out, many of its users voiced out (with special hashtag: #saveKoprol) that the platform should not be closed.
I have to admit that I have not been using Koprol for quite some time. As a location-based social media platform, it is losing out to
Foursquare especially for my case here in
Singapore. However, Koprol is purely made in Indonesia and by Indonesians, therefore as fellow Indonesians, we should be proud of Koprol.
I met some friends, such as
Ryan,
Nunil and
Ari, through Koprol. I met
Leo and
Smitty, in person, through a Koprol gathering here in Singapore.
KCR, Koprol’s community radio, inspired me to setup
Radio Komunitas Twitter Indonesia (
RKTI). Therefore, like it or not, I have some fond memories in Koprol.

Let’s ask Yahoo! not to close down Koprol. If Yahoo! doesn’t want to run Koprol anymore, then may be Koprol founders can request to take over back Koprol and keep on running the social media platform outside Yahoo? I’m not too sure on whether it’s possible, since I understand that Yahoo! has spent quite a lot of money
to acquire Koprol way back in May 2010.
Please, do not let Koprol follow the fate of
Kronologger, another Indonesian-made
microblogging platform in the past, which
was closed down after being acquired by now-defunct
Asia Blogging Network.
PS. Images courtesy of @candoddi and @chocoz
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by indra on February 25th, 2012 — Posted in Quotes
IWAK PEYEK
by @piekupiek and @rasjawa
===
Mangan karo opo, iwak ayam opo iwak sapi opo iwak banyu ???
soldo iwak kebo,doremifasol iwak tongkol..
miremire tahu tempe nak rasane …. *ngakak guling2
tanjung perak tepi laot….
===
Note: ada yang bisa terjemahin artinya apa?
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by indra on February 20th, 2012 — Posted in Opini, Teknis, Informasi, Komunitas Singapura, Obrolan IT
Dalam kunjungan Pak Budi Rahardjo ke Singapura baru-baru ini, beliau (lagi-lagi) komplain mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses Internet yang mudah dan murah. Beliau pada akhirnya harus mengandalkan akses Internet melalui warnet (internet cafe) atau jaringan wi-fi broadband yang disediakan oleh hotel.
Singapura sebenarnya mempunyai jaringan wireless nasional yang bisa diakses secara gratis, yaitu jaringan Wireless@SG. Sayangnya, coverage jaringan yang dipelopori oleh Infocomm Development Authority of Singapore ini hanya terbatas di tempat-tempat umum dengan kualitas jaringan yang kurang begitu baik, apalagi di tempat keramaian dimana banyak orang yang mengakses jaringan tersebut pada waktu yang sama. Bertahun-tahun setelah jaringan tersebut diluncurkan, saya melihat perkembangan jaringan Wireless@SG tersebut tidak sesuai dengan yang digembor-gemborkan.
Alternatif yang saya rekomendasikan untuk pengunjung ke Singapura adalah dengan membeli kartu SIM prabayar dari operator GSM yang ada di Singapura, lalu membeli paket Internet 3G yang bisa dibeli secara harian, mingguan, bahkan bulanan. Harganya tidak terlalu mahal kok, memang sedikit lebih mahal dibandingkan Internet pra-bayar di Indonesia atau di Malaysia, tapi tetap lebih murah dibandingkan akses Internet di warnet atau di hotel.
Sebagai contoh, paket Internet yang ditawarkan Starhub dengan kartu prepaid Green-nya adalah $2 per tiga hari (dengan data bundle 30MB), $4 per tiga hari (dengan data bundle 200 MB) dan $7 per minggu (dengan data bundle 1 GB). Kita tinggal masukkan kartu SIM prabayar tersebut ke smartphone kita yang support wifi tethering, seperti Android atau iPhone. Kita pun bisa menggunakan kartu yang sama untuk menelepon dan ditelepon secara lokal di Singapura, menghemat biaya roaming. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui.
Bagi pengunjung yang menggunakan smartphone Blackberry, jangan khawatir. Operator GSM di Singapura juga sudah mendukung paket Blackberry prabayar, walaupun harganya sedikit lebih mahal dibandingkan paket data Internet biasa. Sebagai contoh, Starhub menyediakan paket Blackberry seharga $5 per hari, $10 per tiga hari dan $18 per 8 hari.
Paket data Internet dan/atau Blackberry tersebut harus diaktifkan sebelum kita gunakan. Khusus untuk paket data Internet, kita bisa gunakan sebelum kita aktifkan paketnya (sistem pay as per use) tetapi nanti jatuhnya akan lebih mahal. Kita bisa me-refer ke pedoman manual kartu SIM prabayar yang bersangkutan untuk mencek bagaimana caranya mengaktifkan paket Internet/Blackberry tersebut. Alternatif lain, cek ke situs operator GSM yang digunakan. Ada tiga operator GSM di Singapura: SingTel, Starhub dan M1.
Picture courtesy of TheTechJournal.
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by indra on February 12th, 2012 — Posted in Kejadian Terbaru, Blogging, Informasi
bz!, majalah online komunitas Blogfam (Blogger Family), terbit kembali setelah vakum lebih dari 3 tahun. Terbitnya majalah online Blogfam ini kelihatannya dimotori oleh salah seorang blogger senior dan moderator Blogfam yang bermukim di Tokyo, bang Rane ‘JaF’ Hafied, yang juga merupakan salah satu DJ Radio Komunitas Twitter Indonesia (RKTI). Bang Rane juga menjadi redaktur utama dan penanggung jawab untuk edisi bz! Februari 2012 ini.
bz! sendiri adalah sebuah majalah online yang pertama kali diterbitkan Blogfam di bulan Februari 2006. Saya ingat, tahun 2006 adalah tahun saya lagi rajin-rajinnya nge-blog, dan bulan Maret 2006 adalah pertama kalinya saya bergabung di forum komunitas Blogfam. Saya banyak sekali berkenalan dengan teman blogger baru di komunitas blogger terbesar Indonesia yang dipelopori oleh MakNyak (Labibah Zain) itu.
Tim redaksi bz! merencanakan untuk kembali menerbitkan majalah online tersebut secara reguler setiap bulan sekali. Dalam edisi bulan Februari ini, bz! membahas tentang relevansi aktivitas nge-blog sekarang, dimana berbagai pilihan media sosial seperti Facebook dan Twitter, sudah semakin marak. Edisi ini juga menampilkan Rara aka Irayani Queencyputri, seorang blogger senior asal Makassar yang juga merupakan salah satu blogger idola saya waktu saya masih aktif nge-blog dulu. Diwawancara oleh bang Rane, Rara juga menyinggung soal relevansi blog sekarang, yang menurut beliau, it is all about passion.
Selain menampilkan Rara, edisi bz! bulan Februari ini juga menampilkan seorang blogger asal negara tetangga Kamboja, Kounila Keo. Juga diwawancarai oleh bang Rane, Kounila menceritakan tentang dunia blogging dan kebebasan berekspresi di Kamboja, dan pandangan beliau mengenai dunia blogging dan blogger Indonesia. Kounila menyukai Indonesia dan beliau berpendapat bahwa blogger Kamboja harus banyak belajar dari blogger di Indonesia.
Edisi bz! bulan Februari 2012 ini juga menampilkan kolom opini dari Daeng Rusle aka Muhammad Ruslailang Noertika, seorang blogger Indonesia yang bermukim di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Edisi ini juga membahas tentang beberapa kegiatan di Blogfam, diantaranya Kopdar Blogfam di Bali yang bertepatan dengan perhelatan konferensi Blogger ASEAN bulan November 2011 yang lalu, dan juga proyek untuk menerbitkan kembali buku antologi komedi cinta yang ketiga.
Majalah online tersebut bisa diunduh secara gratis di URL dibawah ini:
http://blogfam.com/wp-content/uploads/2012/02/bz35feb12.pdf
Selamat membaca. 
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by IndraPr on January 2nd, 2012 — Posted in happening, indonesia, event, travel
I spent the New Year’s eve in Bintan, Nirwana Garden Resorts in Bintan Resorts, Lagoi, to be exact, and spending the last day of 2011 shuttling (islands hopping, to be exact) between Bintan and Batam. Going through the change of year with mixed feelings, here’s the story.
Towards the end of 2011, I was informed that my brother’s family would be spending New Year’s eve in Bintan Resorts, and that my parents are going with them. And my mother specifically requested me to join them to celebrate the new year there. I then decided to go with my son Irza, while my wife and my daughter Inka are staying in Singapore.
My brother and his family and my parents arrived in Bintan on Friday (30/12). They took a flight from Jakarta to Batam, and then caught the speedboat from Telaga Punggur in Batam to Tanjung Uban in Bintan. There used to be a direct ferry from Telaga Punggur to Bandar Bentan Telani (BBT) ferry terminal in Bintan Resorts, but for some reason, the ferry service was not operational.
I and Irza left Singapore for Bintan on Saturday morning (31/12). We took the 9am ferry from Tanah Merah Ferry Terminal (TMFT) in Singapore, and arrived in Bandar Bentan Telani ferry terminal at 9am Bintan (WIB) time. This was when the bad news came in.
When we boarded the shuttle bus which would bring us from the ferry terminal to the resort, my brother called. He said that my mother fell off the electric bicycle she was riding, and she fractured her arm. When I and Irza arrived in the Nirwana Resort Hotel where we are staying, we immediately went to the hotel’s clinic to check my mother’s condition.
Going back to the hotel’s clinic reminded me of another unpleasant experience I had couple of years back there. When I was swimming on the sea with the kids, my foot was bitten by some kind of a poisonous fish, and I needed to spend couple of hours in the clinic to get the venom taken off my foot.
While the hotel doctor has tried her best to put a bandage for my mother’s arm, it’s not sufficient. The hotel clinic doesn’t have X-ray equipment, so my mother needs to go to the nearest hospital which has the equipment, as well as the specialized doctor who can further check her condition. Luckily, she has a friend in Batam who can arrange for an orthopaedic doctor to check my mother’s condition in Awal Bros hospital in Batam.
I then accompanied my mother and my father to go to Batam, after leaving Irza in Bintan under my brother’s care. We took a pre-arranged taxi to Tanjung Uban, from where we took a chartered speedboat to Telaga Punggur in Batam. From Telaga Punggur, we took another pre-arranged taxi to go directly to Awal Bros hospital’s emergency department.
My mother had her arm being X-rayed and the result was not good. She had three bones fractured on her left arm, and most probably would need to undergo operation. I was prepared to spend the new year in Batam when my father decided that he is bringing my mother back to Jakarta so that she can have better treatment (including operation, if necessary) there.
My parents’ Lion Air tickets to Jakarta was for the next day (1/1)’s flight, and I tried calling Lion Air hotline in Batam in a hope to change the tickets to the current day (31/12), but there was nobody picking up the phone. So we decided to go to Garuda Indonesia office located in i Hotel Batam, located near Nagoya Hill, to purchase new airline tickets to Jakarta so that my parents can fly to Jakarta on the same day.
Since my parents decide to go back to Jakarta on that day, I then had to go back to Bintan, and I needed to go back fast since the speedboats from Telaga Punggur to Tanjung Uban only operate during daylight. After sending off my parents at Hang Nadim airport in Batam and had a quick (very late) lunch at Singgalang Jaya padang restaurant there, I took a taxi to Telaga Punggur (Rp 65k). Finally I managed to secure a seat on a 4:30pm speedboat to Tanjung Uban (Rp 30k + Rp 7k tax). It was a bumpy ride to Tanjung Uban with choppy waters and a full-house boat with standing passengers.
My brother had arranged for a taxi to pick me up at Tanjung Uban jetty back to Nirwana Gardens, although I needed to wait for around 30 minutes until the taxi arrived. We had a brief stop in a sate Madura stall in front of the At-Taqwa grand mosque in Tanjung Uban, before arriving in Nirwana Resort Hotel, in time for the gala dinner and the new year’s countdown party.
It was one of the great countdown parties ever. Great gala dinner, and we also won one of the lucky prizes. Awesome live band, and great fireworks over the sea off Bintan during the countdown. But still, we celebrated the new year with mixed feelings, since at the same time, my mother arrived in Jakarta and directly checked-in to Fatmawati hospital.
The next day (1/1), I and Irza took the 2:35pm ferry back to Singapore, while uncle Arief , auntie Via, Alif and Kayla went back to Jakarta via Batam using the same route: taxi to Tanjung Uban, speedboat to Telaga Punggur, taxi to Hang Nadim airport and then the Lion Air plane back to Jakarta.
At the moment, my mother is still warded in Fatmawati hospital, and currently is undergoing pre-op examination. She might be undergoing operation on her left arm in 3-4 days.
Mohon doa dari rekan-rekan sekalian untuk kesembuhan beliau.
Happy New Year to everyone!
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by IndraPr on September 9th, 2011 — Posted in opinion, happening, singapore
Last Wednesday, I went to Swensen’s in Jurong Point (located in the B1 floor of the new Jurong Point 2 shopping mall) to have dinner with my wife and daughter. As usual, the queue is long, which is the norm since Jurong Point is one of the busiest shopping malls in west Singapore. I ordered an Arabiatta Penne while my wife and daughter ordered other dishes in the menu.
I noticed that the restaurant was understaffed, it was full house but only a handful of staff were servicing the customers. My problem started when my Arabiatta Penne never reached our table, even after my wife and daughter have already finished their meals! And it was very difficult to call the staff, we had to raise our hands several times just to get their attention.
Finally I managed to get a staff to attend to us, and I informed her that my Arabiatta Penne was not served yet. She then went back to the kitchen to check, and after another 10-15 minutes of wait, then my Arabiatta Penne arrived.
Another problem surfaced when we wanted to pay for the bill. Again, it was very difficult to get the staff’s attention for us to request for the bill. After more than 5 minutes without avail to get their attention, then I took the initiative to go to the cashier directly to settle the bill. When I arrived at the cashier, the lady was attending to another customer so I waited patiently until my turn to be served.
Another customer, a lady, came to the cashier, stood right next to me and immediately told the cashier her table number, and the cashier processed her bill and served her first. I was very irritated but still waiting patiently, presuming that the cashier would processed my bill after processing the lady’s bill.
And, guess what, the cashier simply ignored me and attended another lady, who stood on my left. I was angry so I decided to walk back to my table. The cashier seemed to notice my anger and she informed her manager, who then came to the table. I simply informed the manager that I wanted the bill, and then she processed the bill and I left the restaurant.
That’s it? No. Several steps after leaving the restaurant, I examined the bill and noticed that they have double-charged the Arabiatta Penne, it was listed as two instead of one. What the f*ck??? It seems that when I informed the staff that my Arabiatta Penne was not yet arrived, the staff thought that I wanted to order another Arabiatta Penne!
I went back to the cashier and asked them to fix this. At the same time, the manager and the cashier were both there so I informed the manager about the earlier incident. And the cashier still wanted to defend herself, saying that the lady on my left was actually coming first, so she had to attend her first. Then what about the lady on my right, which definitely arrived in the cashier later than me? Why the cashier attended to her first?
I didn’t want to argue further, so I just tried to keep myself calm and let them process the refund. They said they can only refund by cash, which is OK with me. After getting the money, then I just left.
And I will never visit this Swensen’s outlet again. At least, until they fix the queue management issue on their cashier, and until they hire more staff for the outlet.
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by IndraPr on September 4th, 2011 — Posted in happening, singapore, greetings, event, community
It’s been a long time since I updated my blogs. :)
I would like to take this opportunity to wish all my Muslim friends a very happy Hari Raya Idul Fitri 1432H. Taqabalallahu mina waminkum, shiyamana wa shiyamakum. May everyone has a blessed Eid festival.
This year, I am celebrating Hari Raya Idul Fitri in Singapore. Actually, I wanted to go back to Jakarta for this year’s Hari Raya, especially since the Hari Raya gathering for my extended family and relatives in Indonesia was conducted in my parent’s house in Cinere, just south of Jakarta. Unfortunately, Inka had an examination last Wednesday, 31 August 2011, exactly one day after Hari Raya, so it was not possible to excuse her from attending school during the day. Especially, since she is now preparing for the PSLE examination for her to leave primary school by end of this year.
For the first time, during this year’s Hari Raya, we celebrated Hari Raya Idul Fitri one day earlier than my extended family and relatives in Indonesia. The Singapore government and MUIS (the Islamic council of Singapore), which is using hisab (wujudul hilal) calculation to determine the first day of the Islamic lunar calendar month, decided that this year’s Hari Raya Idul Fitri falls on Tuesday, 30 August 2011, while the Indonesian government, which is using rukyah (rukyatul hilal) system (by sighting the moon), decided that this year’s Hari Raya Idul Fitri falls on Wednesday, 31 August 2011.
We always follow (local) government’s decision in deciding which day for us to celebrate Hari Raya. Therefore, I and my family in Singapore celebrated Hari Raya on Tuesday, together with other Muslims in Singapore, while my extended family and relatives in Indonesia celebrated Hari Raya on Wednesday. I felt very awkward when I couldn’t call my parents and relatives in Indonesia after Eid prayer on Tuesday, because they haven’t celebrated Hari Raya on that day. I called my parents only on the next day, Wednesday, from the office, while my wife was at home and the kids were already going to school (and Inka was having her exam).
Fortunately, we have friends here in Singapore, mostly Indonesians living in Singapore, who celebrate Hari Raya together with us, so we don’t feel much the loneliness in celebrating Hari Raya Idul Fitri in Singapore. After performing the Eid prayer in Ar-Raudhah mosque, which is located just next to our apartment’s complex, I and family attended a Hari Raya gathering for Indonesians staying in Bukit Batok and surroundings, which was conducted in Parkview Apartments, Bukit Batok. We also attended a Hari Raya open-house event conducted by one of our friends in The Trevose, Dunearn. Actually, there was another Hari Raya gathering for Indonesians in Singapore, which was conducted in Woodlands, however we couldn’t attend the gathering due to time constraint.
The pictures during the Hari Raya gathering event in Bukit Batok can be found here, while the pictures during the Hari Raya open-house event in The Trevose can be found here.
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by IndraPr on September 4th, 2011 — Posted in Komunitas Singapura, gathering, singapura
Wuih, sudah lama juga saya tidak meng-update blog-blog saya. :)
Mumpung masih suasana Lebaran, saya mau memanfaatkan kesempatan ini untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H untuk seluruh umat Islam yang merayakan. Taqabalallahu mina waminkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin. :)
Tahun ini, saya merayakan Hari Raya Idul Fitri di Singapura. Pengennya sih mudik ke Jakarta, apalagi acara silaturahim dan halal-bihalal keluarga besar untuk Lebaran tahun ini kebetulan dipusatkan di rumah orang tua di Cinere. Sayangnya, Inka ada ujian di sekolahnya tepat di hari kedua Lebaran, Rabu 31 Agustus 2011. Tidak mungkin dong memboloskan Inka dari sekolahnya kalau pas ujian, apalagi dia akan segera menghadapi ujian PSLE untuk kelulusan primary school di Singapura.
Untuk pertama kalinya, di Lebaran tahun ini, saya dan keluarga merayakan Hari Raya Idul Fitri di hari yang berbeda dengan keluarga besar di Indonesia. Pemerintah Singapura melalui MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura, MUI-nya Singapura) yang menggunakan sistem perhitungan hisab wujudul hilal untuk menentukan 1 Syawal, sudah lama menentukan Hari Raya Idul Fitri tahun ini jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Sementara pemerintah Indonesia, melalui Menteri Agama, yang menggunakan sistem rukyatul hilal (melihat bulan), memutuskan Hari Raya Idul Fitri tahun ini jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Dari dulu, saya dan keluarga besar memang selalu mengikuti keputusan pemerintah (setempat) untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Walhasil, saya dan keluarga di Singapura merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari Selasa, bersamaan dengan umat Muslim lainnya di Singapura, sementara keluarga besar saya di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari Rabu. Terasa janggal, setelah shalat Ied, saya dan keluarga di Singapura masih belum bisa menelepon orang tua dan keluarga besar di Indonesia karena mereka belum merayakan Hari Raya. Kami baru bisa menelepon mereka keesokan harinya, pas saya sudah masuk kantor, dan anak-anak sudah masuk sekolah (dan Inka sedang ujian).
Alhamdulillah, kebersamaan warga Indonesia di Singapura membuat kami tidak terlalu merasa “kesepian” dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri di Singapura. Di hari Lebaran tahun ini, setelah melaksanakan shalat Ied di Masjid Ar-Raudhah yang berlokasi tepat di samping kompleks apartemen, saya dan keluarga kemudian menghadiri acara halal-bihalal warga Indonesia di daerah Bukit Batok dan sekitarnya, yang dipusatkan di Parkview Apartments, Bukit Batok. Selain itu, kami juga menghadiri acara open-house Hari Raya seorang teman di The Trevose, Dunearn. Sebenarnya ada satu acara halal-bihalal lagi di Woodlands yang kami rencanakan untuk dikunjungi, namun ternyata waktu tidak memungkinkan kami untuk menghadiri acara di Woodlands. Seperti yang pernah saya tulis waktu pertama kali saya dan keluarga merayakan Hari Raya Idul Fitri di Singapura lima tahun yang lalu (wuih udah lama ya), Lebaran di Singapura ternyata tidak separah yang diperkirakan. :)
Foto-foto selama Hari Raya di Bukit Batok bisa dilihat disini, sementara yang di The Trevose bisa dilihat disini.
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.
Posted by indra on January 31st, 2011 — Posted in Pengumuman

Radio Komunitas Twitter Indonesia (RKTI) adalah sebuah radio Internet berbasis Shoutcast, yang awalnya saya buat hanya untuk menyalurkan hobi siaran saya dan sharing playlist dengan teman-teman di tanah air. Dulunya radio ini saya buat untuk teman-teman di IRC, namun karena dunia per-IRC-an sudah semakin sepi, akhirnya saya sharing playlist saya dengan teman-teman di Twitter.
Bagaikan gayung bersambut, siaran radio dengan DJ tunggal yang tadinya hanya seminggu sekali setiap Jum’at malam itu semakin banyak pendengarnya. Dan tidak hanya mendengarkan, banyak teman-teman di Twitter yang juga ingin mencoba siaran di radio itu. Akhirnya saya ajak juga rekan-rekan di Twitter untuk menjadi DJ dan siaran di radio tersebut.
Seiring dengan bertambahnya jumlah DJ yang siaran, radio tersebut pun semakin berkembang dan mulai semakin dikenal lebih luas di kalangan komunitas Twitter Indonesia. Di bulan November 2010, sudah ada sekitar 30 tweeps Indonesia yang ikut meramaikan kancah penyiaran di radio ini. Pada saat ini, berdasarkan jadwal siaran yang di-manage oleh rekan-rekan DJ dalam bentuk spreadsheet di Google Docs, tercatat sekitar 57 DJ yang pernah siaran di radio ini, walaupun tidak semuanya aktif siaran setiap hari.
Nama RKTI (Radio Komunitas Twitter Indonesia) pun diresmikan pada bulan Desember 2010, disusul dengan peluncuran situs resminya, http://rkti.net/ pada tanggal 24 Desember 2010, yang dibidani dan di-manage oleh Hedwigus (@hedwigus), salah seorang DJ RKTI. RKTI pun secara reguler mulai melakukan siarannya setiap hari selama 24 jam, dengan rata-rata 10-20 concurrent listeners setiap harinya. Jumlah pendengar tersebut belum termasuk mereka yang tidak terdeteksi jika mendengarkan RKTI melalui situs Shoutcast di http://www.shoutcast.com/, dan pendengar rekan-rekan IRC yang kadang masih suka mendengarkan RKTI melalui server radio lama yang di-host di Amerika Serikat, yang saya set me-relay server utama RKTI yang di-host di Singapura .
Mulai Januari 2011, seiring dengan pergantian tahun, RKTI mencanangkan untuk memberikan sajian dengan muatan tema yang berbeda dan regular per minggunya, termasuk salah satunya dengan meliput langsung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan komunitas Twitter di Indonesia. Beberapa liputan langsung yang disiarkan oleh RKTI tahun lalu diantaranya adalah event Bancakan bersama DJ @nugrahadi, event FOWAB #4 All About Freelance bersama DJ @moyocatur dan event Bandung Enterpreneur Forum: Back to Blog bersama DJ @donnyreza.
Bulan ini, RKTI juga meliput secara langsung acara StartupLokal Meetup v.9: Acquisition: take it or leave it bersama DJ @kokonic, interview dengan The Hermes team bersama DJ @rsenapati dan @hedwigus, serta acara WordCampID 2011 di Bumi Sangkuriang, Bandung bersama DJ @donnyreza. Di acara StartupLokal Meetup v.9 yang menghadirkan Satya Witoelar dan ceritanya mengenai akuisisi Koprol oleh Yahoo!, RKTI mencapai rekor jumlah pendengar sebanyak lebih dari 90 orang!
RKTI juga mulai menyajikan tema acara reguler setiap minggu-nya, seperti sajian tema cinta, diskusi tentang sepakbola, hingga sesi lagu-lagu drama Korea dan sesi Galau After Midnight. Para DJ RKTI juga mulai bereksperimen untuk melakukan siaran bersama melalui Yahoo! Messenger dan Skype, yang sangat berguna untuk memudahkan para DJ melakukan wawancara jarak jauh di RKTI.
Pendengar RKTI bisa me-request lagu selama ada DJ aktif yang mengisi radio dan bisa memutarkan lagu pesanan. Untuk memesan (request) lagu, pendengar bisa mention DJ yang sedang bertugas melalui Twitter. Informasi mengenai jadwal acara dan nama DJ yang mengudara akan diumumkan melalui akun Twitter @RKTI, yang secara reguler di-update oleh rekan-rekan admin RKTI: @rasjawa, @akuiniobenk, @hedwigus, @rsenapati, @donnyreza dan saya sendiri.
RKTI bisa diakses melalui URL streamingnya: http://r.rkti.net:8000/listen.pls dengan menggunakan Winamp, Windows Media Player, iTunes atau player favorit lain di komputer Anda, ataupun dengan menggunakan player di gadget handphone Anda. RKTI bisa didengarkan dengan menggunakan smartphones Blackberry, Android dan iPhone. Beberapa tipe smartphone Nokia terbaru juga bisa mendengarkan RKTI. Radio streaming RKTI juga bisa diakses dengan mengaktifkan player yang ada di situs RKTI, http://rkti.net/.
Jika Anda ingin memberikan masukan atau feedback untuk RKTI, jangan sungkan-sungkan untuk mengontak saya melalui e-mail ataupun Twitter. Anda juga bisa memberikan komentar di artikel blog ini. Oh iya, jika Anda juga tertarik untuk ikut siaran di RKTI, silahkan kontak saya. So far RKTI menganut sistem keterbukaan, siapa saja yang berminat, bisa untuk siaran di RKTI. Syaratnya hanya komputer yang dilengkapi dengan headset dan microphone, serta koneksi Internet yang memadai untuk streaming.
Yuk, mari kita beramai-ramai mendengarkan RKTI.
Jangan lupa, follow akun Twitter RKTI untuk selalu memantau siapa DJ yang sedang siaran, atau topik apa yang sedang dibahas di RKTI. Sampai ketemu di udara.
Link terkait:
Comments disabled here, visit the original permalink by clicking the title to add comments.